Selasa, 08 Juli 2014

Bissmillaahirrohmaanirrohiim

Assalamualikum sob,

Berhubung sebentar lagi hari pencoblosan yang bertepatan pada bulan Ramadhan, saya mau posting kutipan dari "Detik-detik terakhir dari kehidupan Khalifah Umar Bin Khaththab R.A". Beliau adalah seorang khalifah dan sahabat dari Rasululloh SAW. Semoga bermanfaat...

 

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad, tidak lama sesudah beliau kembali ke Madinah dari menunaikan ibadah haji yang terakhirnya, beliau berkhutbah, diantaranya berbunyi : " Hai kaumku sekalian, bahwa aku telah meliahat mimpi, bahwa ajalku sudah dekat..."

Kemudian, pada waktu subuh hari Rabu taggal 26 Zulhijjah 23H, bertepatan dengan tanggal 3 November 644M, khalifah keluar rumahnya menuju ke masjid untuk mengimami kaum muslimin menunaikan sholat subuh. Sesudah saf-saf teratur baik dan sempurna, beliau memulai shalat dengan mengucapkan takbiratulikhram. Tiba tiba munculah seorang laki-laki menyerbu beliau dan lantas menikam beliau dengan pisaunya berulang-ulang, satu daripadanya mengenai perut beliau sampai ke ususnya. Laki-laki itu ialah seorang budak bangsa Persi bernama Abu Luluah. Khalifah Umar jatuh dan Abu Luluah itu mencoba melarikan diri. Keadaan di dalam masjid menjadi kacau. Shalat terhenti. Masing-masing mencoba memburu dan menangkan Abu Luluah. Tetapi ia dia tidak membiarkan mereka memegang badannya. Sambil berlari, ia menikam ke kiri dan ke kanan sampai ada beberapa yang tertikam dan meninggal. Akhirnya ia tertangkap, namun ia langsung menikam dirinya sendiri.

Khalifah Umar diangkat oleh tandu dan dibawa ke rumahnya. Kemudian Abdurrahman bin 'Auf disuruh beliau mengimami jama'ah untuk meneruskan shalat subuh. Sesudah kaum muslimin menunaikan ibadah shalat, semua koban dibawa kerumahnya masing-masing beserta mayat Abu Luluah yang dikeluarkan dari masjid.

Seluruh kota madinah gempar, para sahabat dan pembesar berlarian ke rumah Khalifat untuk mengetahui keadaan beliau. Abudullah bin 'Abbas berkata : "Aku senantiasa berada di samping Umar selama beliau dalam keadaan pingsan sampai matahari terbit. Sesudah sadar beliau melihat ke muka masing masing kami serta bertanya : " Apakah orang sudah melaksanakan sholat subuh?" Kami menjawab : "Sudah", kemudian beliau berkata : " Bukan Islam yang meninggalkan shalat". Kemudian beliau menanyakan siapakah yang melakukan perbuatan itu, dan kami pun menjawab : Abu Luluah, budak Persia ddan tidak beragama islam". Mendengar hal tersebut Khalaifat bersyukur an berkata : "Alhamdulillah, bukan orang islam yang ingin membunuh saya dan bukan pula orang arab". Beberapa tabib di panggil, namun luka beliau begitu parah. Melihat keadaan tersebut, diantara para sahabat berkata : "Yaa Amirul Mu'miniin! Sungguh kami mengharap kesembuhan da keselamatan mu, Namun siapa tahu jikalau ketentuan Allah sudah harus berlaku. Dari itu tunjukanlah kami ya Amirul muminin, siapakah yang akan mnggantikanmu, sekiranya Engkau Meninggal?". Lalu Khalifah menjawab, "Diwaktu Rasulullah SAW akan meninggal dunia, beliau tidak menunjuk siapa yang akan menjadi Khalifah sesudah beliau. Dari itu juga saya tidak akan berbuat sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah SAW. "

Sahabat menjawab : "Tetapi Abu Bakar tealah menunjuk Engkau menjadi khalifah di waktu beliau akan meninggal dunia". Khalifah menjawab: " Abu bakar berani menunjuk Saya menjadi Khalifah menggantikan beliau, adalah dengan jaminan bahwa beliau bersedia bertanggung jawab di pengadilan Allah nanti atas segala sesuatu yang saya lakukan. Dan Saya sudah berusaha sebisa mungkin dengan kemampuan saya menjaga da memelihara jaminan beliau itu. Adapun sekarang ini saya tidak sanggup menjamin siapapun di hadapan Allah dalam memikul dan melaksanakan beban yang amat berat ini." Setelah mendengan pertimbangann para sahabat dan cerdik pandai serta menimbang hal tesebut semasak-masaknya dari segala segi, terutama untuk menjaga jangan sampai terjadi hal yang sulit dan merugikan sepeninggalan beliau, akhirnya Khalifah mengambil keputusan untuk menyerahkan permasalahan ini kepada permusyawarahan bersama antara enam sahabat terkemuka, guna memilih seseorang diantara mereka untuk menjadi Khalifah.Keenam sahabat diantaranya : Usman bin 'Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubir bin 'Auwam, Thalhah bin 'Ubaidillah, Abdurrahman bin 'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash. Sahabat berkata : " Ya Amirul muminin, apakah salahnya, kalau Engkau langsung menunjuk 'Usman bib 'Affan, bukankah beliau seorang diantara sahabat Engkau dan sahabat Rasul yang sudah dijamin masuk surga, dan kami pandang cukup mempunyai wibawa dan keahlian dalam segala bidang?"

Khlaifah Umar menjawab : " Saya juga mengetahui masalah itu. tetapi saya merasa khawatir, karena Usman memiliki kelemahan, yaitu ia amat sayang kepada keluarganya. Saya takut kalau dalam menjalankan roda pemerintahan nanti , Beliau lebih mengutamakan keluarganya, sehingga terjadi Nepotisme akibatnya orang lain yang memiliki keahlian namun bukan dari keluarganya diberhetikan dan keluarganya walau bukan ahli namun diangkat. kalau terjadi demikian tentulah permusuhan akan timbul, roda pemerintahan tidak akan lancar, pembanguna di segala bidang akan terhambat dan fitnah serta huru-hara akan terjadi dimana-mana. Lebih baik kita menjaga dan waspada sebelum penyakit datang, daripada mengobati setelah peyakit tiba menimpa kita." Para sahbat bertanya lagi : " Bagaimana kalau Engkau tunjuk Ali bin Abi Thalib?" sambil menyebut kelebihan pada Ali bin Abi Thalib. Khalifah Umar menjawab : " Semua yang kalian katakan benar, dan saya sendiri mengenal Beliau seperti mengenal diri saya sendiri. Tetapi saya merasa keberatan karena saya mengetahui kelemahannya, yaitu keinginan besarnya untuk menjadi seorang khalifah. Saya takut, kalau nanti setelah ia mendapatkan apa yagn sangat ia inginkan, ia menjadi lupa daratan karena dibuaikan oleh kesenangan yang selaludiimpikannya. Bukankah banyak orang yang lupa diri lalu menempuh dan membuat segala cara utuk membela dan mempertahankan sesuatu yang amat diinginkan da di senanginya. Akibatnya akan timbullah jurang pemisah antara yang memimpin dengan yang dipimpin, antara pemerintah dengan rakyat, yang semakin lama akan semakin dalam. Kalau sudah demikinan, tidak ada lagi yang dapat kita harapkan dan temui kecuali kehancuran dan kemusnahan, yang tidak dapat ditolong".

Para sahabat menyambung : " Bagaimana jika Zubair bin 'Auwam saja yang ditunjuk?" itupun juga dengan mengemukakan kelebihan-kelebihan yang ada pada Zubair bin 'Auwam. Khalifah Umar menjawab : " Seperti saya mengenal Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, demikian saya mengenal Zubair bin "auwam, dengan kelebihan yang ada pada dirinya. Tetapi dalam hal ini saya keberatan, karena saya melihat kelemahannya, yaitu Ia ia amat cinta dan sayang terhadap kaum muslimin, tetapi amat benci dan keras terhadap yang bukan muslim.Cobalah saudara bayangkan, betapa jadinya nantimasyarakat dan negara ini, dimana di dalamnegara yang kita pimpin hidup dan tumbuh bermacam ragam agama dan kepercayaan. Tentulah tidak akan ada kedamaian dan kerukunan antar agama, malah akan timbul rasa saling curiga dan permusuhan yang sukar dipadamlkan. Kalau sudah samapi disana, kita akan terbawa hanyut kejurang kebinasaan yang tidak ada akhirnya.

Para sahabat menyambung lagi: "Bagaimana dengan Thalhah bin 'Ubaidillah, bukankah ia mempunyai kelebihan dan keutamaan yang tinggi nilainya?" Khalifah Umar menjawab: " Benar, benar, semua itu saya ketahui, tetapi saya melihat kelemahannya yang mungkin tidak kalian lihat, yaitu : Thalhah itu amat cinta terhadap istri dan keluarganya, cinta dan kasih sayang yang berlebih. Saya takut kalau istri dan keluarga yang amat dicintai itu mendesak dan menjerumuskan Thalhah untuk berbuat dan melaukan hal-hal yang tidak baik. Apabila atasan telah melakukan hal-hal yang tidak baik, nanti akan dicontoh oleh orang bawahan secara merata.Bukankah kita banyak melihat dan menyaksikan suami-suami atau kepala keluraga yang pada mulanya baik dan jujur, akhirnya menjadi tidak baik dan berlaku curang, disebabkan desakan keingina istri tercinta yang harus dipenuhi. Yang mennerima akibat dari itu semua ialah rakyat dan negara".

Para sahabat menyambung lagi: " Wahai Khalifah, Engkau tunjuk saja Abdurrahman bin ' 'Auf, bukankah ia memiliki kecerdasan dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain?" Khalifah menjawab: "Saya tahu bahwa Abdurrahman bin 'Auf adalah manusia istimewa dalam bebearapa hal, terutama dalam kecerdasan otak dan pikiran. Tetapi dalam hal ini ada yang saya takutkan, yaitu jika orang yang amat pintar dan cerdik ingin hendak melakukan kesalahan, tidak ada yang dapat melihat dan mengetahuinya kerena harus jalannya, sehingga tiba-tiba orang baru sadar, sesudah semuanya berada dalam perangkap. Karena kita ini adalah manusia biasa, saya khawatir kalau-kalau godaaan setan dan dorongan hawa nafsu amat kuat memperdayakan Abdurahman, sehingga ia terlanjur berbuat sesuatu yang tidak baik. Akibatnya bukanlah menimpa satu golongan, tetapi menimpa dan merusak keseluruhannya. Hal ini sangat saya takuti".

Para sahabat berkata lagi: " Bagaimana dengan Sa'ad bin Abi Waqqash? Menurut kami sepantasnyalah ia ditunjuk menjadi khalifah, karena ia gagah berani seperti Engkau, mempunyai wibawa dan keahllian dalam berbagai bidang". Khalifah Umar menjawab: " Benar semua yang kalian sebutkan itu. Malah Ia adalah panglima perang yang jarang tandingannya, ditakuti oleh lawan kawan. Tetapi dalam hal ini ada yang saya cemaskan , yaitu perang akan terus terjadi, terutama terhadap orang-orang atau golongan dan negara yang menentang kekuasaannya. Orang yang bersalah akan menerima hukuman yang berat tanpa ampun, orang yang berlainan pendapat dengan dia akan mendapat tekanan lahir dan batin. Akibat dari semua itu ialah hilangnya ketentraman dan ketenanga dalam hati dan pikran masyarakat umum, sedangkan hakikat dari kebahagian yang sebenarnya ialah ketentraman dan ketenangan. Semua yang saya takuti dan khawatirkan itu, hanyalah menurut ukuran pemikiran manusiawi, sedangkan yang akan terjadi adalah menurut ketentuan yang telah ditetapakan oleh Illahi. Sebagai seorang khalifah yang sampai hari ini masih bertanggung jawab kepada Allah dan umat ini, saya merasa wajib menyampaikan segala sesuatu yang menurut pemikiran dan pertimbangan saya ada baiknya."

Lalu para sahabat berkata: "Ya Amirul muminin, bagaimana kalau anak kandungmu sendiri Abdullah bin Umar di tunjuk untuk menjadi Khalifah?" mereka menjelaskan kelebihan yang ada pada Abdullah tersebut. Khalifah Umar menjawab: "Saya lebih tau tentang anak saya dibanding kalian. Kelebihannya memang ada, tetapi ia memiliki kelemahan yaitu ia cepat sedih dan terharu serta tidak tahan meliaht air mata karena sangat penyayangnya. Dari itu saya takut, kalau nanti keadila tidak dapat ditegakkan, hukum kurang berlaku menurut mestinya disebabkan tidak sampai hati melihat suasana orang yang dihadapi. Alangkah kecewanya umat ini bila terjadi yang demikian. Hanya saja jika dalam permusyawarahan nanti terhadap suara sama banyak, mintalah pertimbangan pada Abdullah. Sekarang berhubung Thalhah bin Ubaidillah sedang tidak ada di madinah, tunggulah kedatangannya sampai tiga hari, tetapi jika Ia belum juga datang, teruskanlah permusyawaratan kamu, dipimpin oleh Miqdad. Siapa yang terpilih dalam permusyawaratan itu menjadi Khalifah, sokonglah oleh yang lain sebaik-baiknya, sehingga kelemahannya menjadi hilang dan dapat disempurnakan. Laksanakanlah hal ini sebaik-baiknya, semoga Allah SWT membimbing dan melindungi kita semua."

Sebelum beliau menutup mata yang terakhirnya, Beliau menyuruh putranya Abdullah menyelesaikan segala hutang pihutangnya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah keduniaan. Beliau meminta kerelaan keluarga Rasul dan kaum muslim agar Beliau dimakamkan berdekatan dengan kedua sahabatnya, yaitu Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Permintaan itu deperkenankan dan beliau berwasiat kepada puteranya supaya segala sesuatu yang berkenaan dengan jenazah dan pemakaman dilakukan secara sederhana.

Tubuhnya sudah semakin lemah, suasana semakin tenang. Beliau meminta agar pipinya yang berada di pangkuan Abdullah untuk diletakan di lanatai. Sesudah pipinya diletakan sebagai yang diinginkan, lalu kedua kakinya dipertautkan, serta beliau beristighfar, bertasbih, dan mengucapkan kalimat tauhid berulang-ulang sampai belaiu menutup mata penghabisan dalam keadaan tenang pada tanggal 26 Zulhijjah 23H bertepatan dengan tanggal 3 November 644M. Diselingi air mata dan rasa sedih para sahabat dan keluarga menderulah ucapan " Innalillahi wa Innailaihi raaji'un". Khalifah Umar bin Khattab R.A telah meninggal namun banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil. Semoga Allah memberikan keselamatan kepada Rasullullah SAW, para sahabat, keluarga dan umat muslim semuanya. Aamiin...

 

Referensi : Buletin Kulliyatul Mujahidin, No. 6/Th.1/1978 ; Istiqomah, Suleman Zainuddin.